Kredit gambar: pexels.com

Paska Menghapus Akun Media Sosial

Menilik saat saya masih aktif menggunakan media sosial Facebook dan Instagram dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun dapat dibilang sebagai pengguna pasif dimana saya jarang menuliskan konten, namun saya cukup rutin membuka dan menikmati fitur media sosial tersebut. Beberapa bulan terakhir membuat saya gundah dalam menggunakan media sosial, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menghapus kedua akun media sosial saya tersebut.

Saya merasa gundah karena banyak sekali konten ujaran kebencian yang tayang di laman media sosial Facebook maupun Instagram. Awalnya jumlahnya hanya sedikit dan dalam batas yang menurut saya masih dapat ditoleransi. Namun, tidak perlu waktu lama hingga konten-konten negatif semakin banyak dan sering melintas di beranda media sosial saya. Terutama menjelang musim Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA) dan Pemilihan Umum (PEMILU) Presiden di tahun 2019 yang akan menjelang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sulit untuk tidak memiliki preferensi. Hal tersebutlah yang dimanfaatkan oleh penggiat media sosial, apapun motifnya, untuk mempengaruhi orang lain melalui konten-konten yang disebarkan melalui sosial media. Ada yang melalui cara halus dan disertai fakta, namun tak sedikit yang menggunakan ujaran kebencian disertai berita bohong. Keduanya, menurut saya, lambat laun akan dapat memicu penyakit hati. Terlebih konten-konten tersebut bersifat adiktif sehingga lambat laun membuat pembaca menjadi penikmat. Sehingga sulit untuk bisa bersikap adil sejak dalam pikiran.

Karenanya, saya memutuskan untuk menghapus akun dua media sosial saya yaitu Facebook dan Instagram. Pertama, saya mengganti kata sandi akun-akun tersebut secara acak menggunakan fitur dari manajer kata sandi Enpass. Kemudian kata sandi baru tersebut saya berikan sepenuhnya kepada istri. Tujuannya adalah agar mempersulit saya untuk melakukan pemulihan akun. Selanjutnya, akun-akun media sosial tersebut saya hapus (deactivate) secara permanen. Terakhir, saya menghapus aplikasi media sosial yang terpasang di ponsel pintar.

Sekarang sudah hampir satu bulan sejak terakhir saya aktif menggunakan media sosial. Perubahan nyata yang saya rasakan adalah menjadi lebih tenang. Konten-konten negatif dan ujaran kebencian sekarang tidak lagi menganggu pikiran saya. Harapannya saya dapat menjadi lebih netral dan dapat berpikir dan bersikap secara obyektif. Kedua, sekarang dapat menjadi lebih fokus bekerja tanpa distraksi. Setidaknya hal-hal remeh temeh tidak lagi menjejali pikiran saya.

Paska menghapus akun media sosial, saya menjadi lebih aktif dalam belajar hal-hal baru. Contohnya adalah belajar mengembangkan aplikasi Shiny, kontrol versi menggunakan Git, dan membuat situs daring selain rutinitas harian menyelesaikan tesis dan mempelajari bahasa pemrograman R. Akhirnya saya dapat rutin menjelajah di repositori GitHub dan belajar di kanal Telegram komunitas R, Linux, dan Inkscape. Mungkin ini merupakan dampak positif dari keputusan menghapus akun media sosial yang saya miliki. Tertarik untuk menghapus akun media sosial Anda?

comments powered by Disqus